Ibu Profesional, Kelas Bunda Sayang, Komunikasi Produktif

Aliran Rasa Komunikasi Produktif

oleh Noer Aliya Yahya

Tantangan

Sebagai tantangan pertama dalam kelas Bunda Sayang Institut Ibu Profesional, kami diminta untuk membuat forum keluarga sebagai sarana diskusi dan mempraktekkan komunikasi produktif yang kami pelajari di kelas ini. Tantangan berjalan selama minimal 10 (sepuluh) hari, dan kami dapat memilih 1 (satu) anggota keluarga yang kami tetapkan sebagai objek forum keluarga, boleh pasangan atau salah satu dari anak-anak.

Forum Keluarga

Dalam tantangan ini saya putuskan untuk mengambil anak kali-laki kami, Syauqi,  sebagai objek forum keluarga. Kenapa saya memutuskan mengambil dia adalah karena 2 (dua) hal:

  1. Saya merasa komunikasi saya dengan Syauqi masih belum produktif. Saya masih mudah terpancing emosi, suka merasa ‘itu sudah sepatutnya’ sehingga jarang memuji dan Syauqi masih sering tidak bisa menangkap tujuan pembicaraan saya.
  2. Tujuan saya melanjutkan kelas Bunda Sayang adalah untuk mengambil manfaat dan mengaplikasikannya pada kehidupan sehari-sehari, sehingga karena saya merasakan masalah komunikasi terbesar saya adalah dengan Syauqi maka meski berat tapi saya putuskan untuk mengambil dirinya menjadi objek tantangan pertama ini.

Dari 10 (sepuluh) hari tantangan, semua yang saya tuliskan adalah kejadian dalam 2 (dua) minggu terakhir. Ada beberapa tantangan yang merupakan kejadian dua atau tiga hari sebelum tulisan dibuat. Namun kebanyakan adalah kejadian pada 1 (satu) hari sebelumnya.

Hasil Pengamatan

Alhamdulillaah 10 (sepuluh) hari tantangan ini saya merasakan betapa selama ini saya masih jauh dari melakukan komunikasi produktif dengan Syauqi, dan membuat saya mengevaluasi juga komunikasi yang saya lakukan selama ini dengan suami dan anak-anak saya yang lain. Namun pencapaian dalam tantangan ini membuat saya menjadi yakin bahwa apabila saya mau berubah maka pasti ada jalan. Aspek komunikasi produktif yang saya rasa paling perlu saya perbaiki adalah:

  1. Mengendalikan emosi, karena pada dasarnya emosi adalah godaan syaitan, maka tidak aneh bila sisa pembicaraan menjadi tidak produktif.
  2. Intonasi suara dan gunakan suara yang ramah, kadang status sebagai ibu dan lawan bicara sebagai anak menimbulkan legitimasi untuk berbicara seenaknya. Padahal setiap anak adalah manusia juga yang ingin dihargai selayaknya orang dewasa.
  3. Mengatakan keinginan, sebagai perempuan kadang sifat ‘ingin dipahami’ terbawa saat komunikasi dengan anak, sehingga lebih sering mengatakan ‘kamu jangan begini’, dibanding ‘bunda ingin kamu begini’.
  4. Jelas dalam memberikan pujian dan  kritikan, karena dalam hal ini saya merasa saya selama ini sangat pelit dalam memberi pujian.

Alhamdulillaah saya berhasil meyelesaikan tantangan komunikasi produktif ini, ان شاء الله tidal berhenti sampaikan disini tapi saya diberikan keistiqomahan untuk senantiasa mengaplikasi komunikasi produktif di keluarga saya, aamiin.

 

Slough-United Kingdom, 27 September 2018


#level1bundasayang
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s