Fitrah Seksualitas, Ibu Profesional, Kelas Bunda Sayang

Aliran Rasa Fitrah Seksualitas

Bismillaahirrohmaanirrohiim,

Alhamdulillaah selesai sudah tantangan 10 hari level 11 dengan topik Fitrah Seksualitas. Sejak memulai tantangan di hari pertama hingga selesai di hari kesepuluh perasaan ini benar-benar seperti diaduk-aduk. 

Materi hari pertama dan kedua sudah membuat saya tercenung, menyadari pentingnya membangitkan fitrah seksualitas sejak dini. Sesuatu yang lebih banyak dianggap tabu di lingkungan dimana saya dibesarkan. Materi hari ketiga dan keempat memaksa saya melakukan kilas balik apa yang terlewatkan saat membesarkan anak-anak. Dan disitu saya menyadari celah-celah yang menjadi PR bagi kami untuk memastikan fitrah seksualitas anak-anak tumbuh paripurna. 

Materi hari kelima tentang pentingnya aqil dan baligh secara bersamaan merupakan materi yang memberi kesan paling mendalam pada tantangan level ini. Kebetulan materi ini adalah juga materi presentasi kelompok kami, sehingga saya lebih mencari data pada tantangan hari kelima ini. Disini saya menyadari bahwa memastikan anak-anak mencapai aqil baligh secara bersamaan adalah ‘the ultimate goal’ bagi orang tua dalam membangkitkan fitrah seksualitas anak. Mengapa? Karena saya merasa inilah tujuan sebenarnya membesarkan anak yaitu menyiapkan anak untuk matang secara mental dan pikiran bersamaan dengan kematangan biologisnya. Mungkinkah? Tentu saja mungkin, namun tentu tidak mudah prosesnya. Situasi dan kondisi lingkungan saat ini memanjakan kami orang tua sehingga cenderung bersifat permisif. Orang tua secara tidak sadar terbawa dengan pemikiran bahwa saat anak mencapai usia baligh maka anak-anak memasuki masa remaja, yaitu masa yang dimana mereka cenderung labil, sehingga orang tua menjadi sibuk menghadapi sikap labil ini dan melupakan bahwa ternyata sebenarnya Islam dan juga agama-agama monoteis lain tidak mengenal istilah remaja! Remaja adalah istilah yang muncul sebagai hasil dari perubahan paradigma yang muncul di Amerika pada awal abad 20. Orang tua cenderung menunda anak-anaknya untuk segera menikah di usia 15-16 tahun sehingga muncullah istilah remaja sebagai fase baru selain fase anak dan dewasa. Alhamdulillaah topik kali ini sungguh membuka pikiran dan menyadarkan kami akan tanggung jawab atas amanah yang telah diberikan kepada kami. 

Namun kesadaran saja tentu saja tidak cukup, apalagi saat memasuki materi hari keenam, ketujuh, kedelapan dan hari kesembilan dimana terasa bahwa lingkungan merupakan faktor yang sama sekali tidak bisa diabaikan. Semakin merasa tantangan ternyata bukan hanya datang dari kurangnya ilmu kami sebagai orang tua namun juga pengaruh lingkungan akibat kemajuan teknologi yang sangat kuat, membuat arus informasi masuk bagai air bah. Informasi yang dulu membutuhkan waktu bulanan hingga tahunan untuk sampai ke telinga anak-anak, kini dalam hitungan detik bisa sampai dengan mudah dan lengkap. 

Disinilah terasa betapa benteng terakhir adalah kekuatan doa. Memanfaatkan waktu yang tersisa dengan segera mengejar ketertinggalan dalam membangkitkan fitrah seksualitas anak diiringi membangun fitrah keimanan mereka. Senantiasa menyelipkan doa dan aturanNya dalam setiap momen yang ada dan senantiasa berdoa dan memohon perlindungan Allah swt. Semoga kita dan anak-anak kita senantiasa berada dalam perlindungan Allah swt, aamiin allahummaa aamiin.

Slough-United Kingdom, 28 Agustus 2019

#Level11BundaSayang
#Tantangan10Hari
#FitrahSeksualitas
#AliranRasa

Referensi:

  1. The Invention of the Teenager: http://www.ushistory.org/us/46c.asp

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s