Ibu Profesional, Kelas Bunda Sayang, Kiddos, Komunikasi Produktif

Lunch Box

Bismillaahirrohmaanirrohiim,

Seiring bertambahnya usia Kayla dan Syauqi, kami senantiasa memikirkan cara yang tepat untuk melatih tanggung jawab mereka.

Selama ini Kayla sebenarnya sudah cukup banyak membantu saya dalam hal pekerjaan rumah. Tanggung jawab mencuci piring pada malam hari sudah saya delegasikan padanya, dan dia yg mengatur jadwal harian untuk bergiliran bersama 2 adik perempuannya.

Namun tantangan kami adalah lebih pada bagaimana mencari aktifitas yang membantu melatih tanggung jawab Syauqi. Sejauh ini Syauqi tidak menolak bila diminta memotong rumput membuang sampah, namun masih terbatas pada mengerjakan saat diminta, belum sampai taraf manager kebun dan manager persampahan.

Alhamdulillaah Allah swt membukakan pikiran kami. Selama ini suami dan saya membiasakan untuk puasa sunnah Senin Kamis. Otomatis pada kedua hari tersebut saya tidak membawakan bekal makan siang untuk suami. Namun selepas sahur saya masih harus segera menyiapkan bekal untuk Kayla dan Syauqi. Muncul ide untuk mendelegasikan tanggung jawab menyiapkan bekal makan siang pada hari Senin dan Kamis kepada mereka sendiri.

Tantangan selanjutnya adalah bagaimana mengkomunikasikan ide ini kepada mereka. Alhamdulillaah saya segera membuka lagi materi Bunda Sayang, dan langsung terbayang oleh saya adalah aspek KISS (Keep Information Short and Simple), aspek Intonasi Suara dan Gestur Tubuh dan  aspek Mengatakan Keinginan bukan Ketidakinginan.

Bismillaah, sore hari selepas sholat maghrib berjamaah, saya langsung ajak Kayla dan Syauqi ngobrol.

“Bunda ingin kalian belajar menyiapkan bekal makan siang kalian”, saya membuka diskusi.

“Karena setiap Senin dan Kamis ayah dan bunda berpuasa, bunda ingin kalian menyiapkan makanan kalian sendiri pada kedua hari itu.”, lanjut saya lagi.

“Oh jadi tiap Senin dan Kamis ya Bun”, Syauqi berkomentar.

“Naaah, boleh gak pizza night kita yang biasanya hari Jumat malam diganti ke Minggu. Jadi hari Senin aku bawa pizza aja, kan biasanya gak abis.”, lanjut Syauqi lagi.

“Hahaha, Boleeeeh Qi, tapi ingat ya, bukan cuma Senin, tapi Kamis juga”, saya menyahut sembari tertawa. Taktis juga cara berpikir Syauqi, jadi dia hanya perlu memasak bekalnya sendiri pada hari Kamis.

“Iya Bun, aku paham, hari Senin sama Kamis.”, ulang Syauqi.

Alhamdulillaah, beres satu tantangan untuk menyampaikan maksud ke Syauqi dan rasanya Syauqi menangkap pesan yang disampaikan, ان شاء الله

Hari itu lagi-lagi saya belajar pentingnya menyampaikan keinginan dengan jelas dan sederhana. Tentunya peran intonasi dan gestur tubuh sangat diperlukan untuk membantu anak-anak menerima maksud kita dengan baik.

Slough-United Kingdom, 18 September 2018
#level1bundasayang
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#hari8

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s