Ibu Profesional, Kelas Bunda Sayang, Kiddos, Komunikasi Produktif

Target

Bismillaahirrohmaanirrohiim,

Berbicara masalah karakter anak-anak, 2 anak kami yang besar, dengan selisih umur yang tidak sampai 2 tahun, memiliki karakter berbeda. Kayla, si sulung, sampai dengan usia SD cenderung santai. Dengan sifat santainya dia menjalani bangku SD di Singapura yang sebenernya memiliki tingkat kompetisi pendidikan sangat tinggi. Namun saat hasil kelulusan SD yang ia raih tidak seperti yang diharapkannya, Kayla berubah menjadi anak yang memiliki determinasi. Belajar dari kesalahannya, ia menjadi anak yang tekun dan pekerja keras. Salah satu hasil yang sudah mulai dipetiknya adalah hasil kelulusan GCSE (selevel kelas 10 SMA) yang merupakan standard pertama pendidikan di Inggris.

Meski Kayla saat ini setara dengan kelas 12 SMA, namun dengan berbagai pertimbangan akhirnya Kayla mengambil 2 pelajaran GCSE yaitu English dan Math. Sebenarnya pelajaran tersebut adalah pelajaran dasar yang memang sudah diambil sewaktu masih di Indonesia, hanya mengingat dia juga mengambil 3 pelajaran A level (ujian akhir SMA) dan ini adalah tahun pertama kepindahannya sehingga ia harus beradaptasi dengan banyak hal mulai dari bahasa hingga soal dan metoda menjawab yang diharapkan, maka total 5 pelajaran dalam setahun membuat guru-gurunya sedikit ‘under estimate’ terhadap hasil yang bisa dicapai Kayla. Hal ini karena rata-rata teman-temannya mengambil paling banyak 4 pelajaran, dengan catatan mereka sangat familiar dengan sistem pendidikannya. Dengan determinasi yang kuat, ketekunan dan kerja keras, Kayla berhasil mendapat nilai 8 untuk Math (setara A) dan 6 (setara B) untuk English dari skala 9. Alhamdulillaah, benar-benar saya bersyukur, karena saya mengerti betul kekhawatirannya terutama pada mata pelajaran English yang memang sangat berbeda dengan bahasa Inggris yang dipelajari baik di Indonesia maupun Singapura. Ada komponen Literatur (Sastra kalau di Indonesia), sesuatu yang tidak terlalu dipelajari di Indonesia maupun Singapura namun menjadi kunci cara menjawab yang diinginkan.

Sebenarnya hampir mirip dengan kakaknya, Syauqi adalah juga anak yang santai, hanya perbedaannya adalah dengan sifat santainya, Syauqi masih berhasil mendapatkan nilai kelulusan SD dengan baik. Begitu juga ujian kelulusan SMP di Jakarta yang lagi-lagi dia lewati dengan santai namun masih memberi nilai yang cukup baik. Terus terang saya sedikit khawatir dengan gayanya. Tidak seperti kakaknya yang memiliki determinasi, Syauqi cenderung ‘let it flow. Membuat saya senantiasa deg-degan. Sejauh ini kepindahan kami ke Inggris juga belum membuat dia berubah. Apabila diajak ngobrol tentang sekolahnya, ia cenderung acuh meski hasil setahun ini sangat diapresiasi oleh guru-guru sekolahnya.

Kemarin saat perjalanan pulang dari klinik gigi, saya ingin memancing reaksinya atas hasil GCSE kakaknya. Saya berharap dia bisa terpacu untuk belajar lebih giat setelah melihat pencapaian kakaknya.

You_Doodle_2018-09-21T16_34_12Z

“Bang, menurut kamu hasil yang Uni capai gimana?”, pancing saya memulai pembicaraan.

“Hasil Uni? Wah itu bagus banget Bun, Uni dapet segitu kan berarti A untuk Math dan B untuk English”, jawab Syauqi.

Mendapat respons yang positif, sayapun melanjutkan,

“Kalo abang kira-kira bisa mencapai hasil seperti Uni gak?”, lanjut saya lagi.

“Bisa bun, ان شاء الله, target aku Math 9 dan English 8.”, Syauqi menjawab dengan mantap. Alhamdulillaah, terus terang saya senang dengan jawabannya. Selama ini saya khawatir melihat dia masih tetap santai padahal ujian sudah di ambang pintu.

Biasanya saya cenderung ‘take for granted’ dan suka lambat memuji hal-hal seperti itu. Namun materi Bunda Sayang yang sedang saya pelajari alhamdulillaah mengingatkan saya untuk segera memberi pujian yang spesifik.

“Alhamdulillaah, bunda senang kamu sudah mempunyai target untuk GCSE kamu. Selanjutnya abang harus siapkan langkah-langkah untuk mencapainya”, puji saya.

Alhamdulillaah hari itu saya belajar untuk bisa memberikan pujian yang jelas sebagai bentuk komunikasi produktif, ان شاء الله ke depannya bisa lebih baik lagi, aamiin allaahummaa aamiin

Slough-United Kingdom, 13 September 2018
#level1bundasayang
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#hari3

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s